Senin, 21 Juli 2014

Universitas Kehidupan

Jika semua yang kita ndaki terus kita miliki, darimana kita belajar ikhlas?

Jika semua yang kita impikan segera terwujud, darimana kita belajar sabar?

Jika setiap do'a kita dapat dikabulkan, bagaimana kita belajar ikhtiar?

Seseorang yang dekat dengan Tuhan, Bukan berarti tak ada air mata.

Seseorang yang taat dengan Tuhan, bukan berarti tak ada kekurangan.

Seseorang yang tekun berdo'a, bukan berarti tak ada masa sulit.

Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita.
Karena Tuhan tahu waktu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketulusan.

Krtika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itu kamu sedang belajar tentang keikhlasan.

Ketika kamu terluka sangat dalam, maka saat itu kamu sedang belajar tentang memaafkan.

Ketika kamu lelah dan kecewa,  maka saat itu kamu sedang belajar tentang  kesunguhan.

Ketika kamu merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kamu sedang belajar tentang ketangguhan.

Ketika kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung, maka saat itu kamu sedang belajar kemurah-hatian.

Tetap semangat ...
Tetap sabar ...
Tetap tersenyum ...

Karena kamu sedang menimba ilmu diUniversitas Kehidupan.

Tuhan menaruhmu di "tempatmu" yang sekarang bukan karena "kebetulan"

Orang HEBAT tidak dilahirkan melalui kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan.

Mereka dibentuk dari kesukaran, tantangan, dan air mata.





[Disadur dari buku "Sepatu Untuk Dahlan"]

Minggu, 20 Juli 2014

Catatan dari seorang teman bernama "Kegagalan"




Dulu ketika aku kecil mereka selalu bertanya apa cita-citaku, dengan yakin aku pun menjawab, "Aku ingin menjadi seorang Dokter." Kala itu hampir setiap anak perempuan menjawab hal serupa. Indahnya masa itu. Masa ketika bisa menikmati setiap detik kehidupan dengan senyum kebahagian.

Saat itu sebuah impian hanya terucap di mulut saja, tak berarti apa pun. Sampai tiba saatnya aku terus beranjak dewasa.

Tahun demi tahun kulalui. Barbagai macam peristiwa turut terjadi . Selama itu cita-citaku selalu berubah . Aku masih mencari, apa yang sebenarnya menjadi cita-citaku?

Jumat, 25 April 2014

Sungai Impian



Ini tentang sungai mimpi. Sungai gelap yang dilalui dengan penuh perjuangan. Untuk sebuah impian di ujung sungai. Untuk masa depan yang lebih baik. Tak peduli sesakit apa nanti, aku yakin akan ada seseorang untukku. Membantu dan membimbingku dengan karunia dan kuasamu.

Saat ini aku akan memulai prtualanganku di sungai impian ini. Semoga sampan dan kayuh yang kugunakan tak salah. Agar aku dapt melaluinya dengan sedikit lebih mudah. Tanpa harus terjatuh berkali-kali karena ternyata sampan yang kutumpangi mengalami kerusakan atau yang lainnya. Tak perlu berputar putar tersesat terlalu jauh, karena kayuh yang kugunakan tidak sempurna mengikuti kayuhan tangan ini. Sampaikan aku segera pada impianku.

Kisah ini adalah kisah tentang perjalanan anak manusia. Melalui masa teruniknya untuk meraih sebuah mimpi, sebuah tempat impian. Lewat sungai impian inilah kau akan mendapatkannya.

Aku mendapat pesan dari sang sungai. "Bersemangatlah kalian! Tak peduli seberapa kerasnya nanti batu sungai yang kalian hadapi, tak peduli berapa kali kalian jatuh untuk menjaga keseimbangan, tak peduli berapa jauh jarak yang harus kau gapai. Kau harus kuat dan kuat."

Cerita Sungai impian
Lika-Liku Kehidupan di Putih Abu-Abu




Cooming soon guys,




Ariniwei

Senin, 21 April 2014

Untuk Musim Gugurku




Berapa lama lagi aku harus menunggu. Menunggu musim gugur. Menunggu suasana oranye itu menyapa lingkungan sekolahku. Menyapa di setiap jalanan yang aku lewati. Seprti itulah menunggumu.

Kamu seperti musim gugur. Aku menyukai musim gugur dan selalu menantinya, menanti kesempatan itu datang. Kesempatan menikmati musimmu dengan langsung. Merasakan sentuhan helaian daun yang menerpa tubuhku. Menangkap daun yang gugur dengan tanganku sendiri, agar impianku yang lain terkabul. Walau aku tak tahu kapan hal itu akan tiba. Aku tak tahu berapa lama aku harus menunggu hal itu.

Seperti kamu. Kamu yang kutunggu sejak saat itu. Sejak keindahan musim gugur itu memiliki tempat tersendiri di hatiku. Aku selalu berharap kau akan datang menunjukan keindahanmu. Mengizinkanku merasakan semilir angin musimgugur. Atau kau memberiku jalan datang menemui musim gugurku.

Aku tahu aku bodoh. Aku bodoh untuk mengharapkan musim gugur itu datang menyapa. Nyatanya ia taka akan pernah datang. Sepertimu yang tak akan pernah menjadi nyata. Kamu yang terikat dengan masa lalu. Kamu yang sudah nyaman berada di negara beriklim 4 musim. Kamu yang sangat jauh. Sangat jauh. Bahkan hanya banyanganmu saja aku tak bisa melihatnya.

Setiap hujan datang aku berharap daunlah yang turun. Sehingga saat itu aku tahu dirimu akan datang. Jika itu terjadi aku akan berlari. Berlari menghampirimu. Merentangkan tangan menghirup wangi khasmu. Aku ingin itu. Aku memimpikan hal itu.

Namun nyatanya sejak saat kau menempati tempat tersendiri itu aku tahu bahwa kau tak mungkin bisa kurasakan. Kau hanyalah mimpi yang terlalu tinggi untuk kuraih. Haruskah aku kumpulkan daun-daun di halam sekolah, kemudian menghamburkannya? Agar seperti terasa daun itu gugur dengan sendirinya.

Apa yang harus aku lakukan? Aku tak punya banyak uang untuk mengunjungi tempatmu berada. Aku pastilah kalah jauh dengan masa lalumu. Seandainya ada perangko untuk tujuan musim gugur,akan kukirimi kau surat setiap harinya. Tak peduli isinya tetap sama. Yaitu memuji keindahanmu dan berharap kau ada menyapaku. Bagiku tak akan pernah habis kata-kata untuk mendeskripsikanmu, musim gugurku.

Untuk perasaan ini aku ucapkan terimakasih. Terimakasih untuk tumpukan daun musim gugur yang kau tinggalkan. Yang membuatku mengagumimu. Jika suatu saat kau tahu ini. Aku berharap kau datang. Aku berharap kau mengirimiku sehelai daunmu dan membawaku ketempatmu. Namun jika ternyata kau ada di halaman rumah orang lain dan telah menjadi milik orang lain. Aku berharap pemilikmu memperhatikanmu. Mengagumi keindahan helaian daunmu yang berguguran dan menyangimu dengan caranya. Dan aku. Aku akan mencari musim gugurku yang lain. Yang masih bisa kumiliki. Berada di tempatku. Bisa kuhirup wanhi khasnya setiap hari.

Sayangnya musim gugur tak ada di sini. Di negaraku yang beriklim tropis. Untuk musim gugurku, tetaplah menjadi yang rela berkorban. Menggugurkan daunnya untuk kelangsungan hidup di musim dingin.

Jumat, 12 Juli 2013

Celah Kecil Diantara Takdir dan Waktu Itu Bernama Cinta







Kamu datang tiba-tiba tanpa aku undang. Bekerjasama dengan waktu, kamu tanpa permisi memasuki hatiku. Dengan waktu juga kamu membuat segala prosesnya menjadi indah membentuk sebuah kenangan yang terukir di hatiku.


Tiba-tiba kamu membuat waktu terasa hampa tanpa terlewati bersamamu. Membuatku selalu teringat tentangmu. Tawamu menghisasi mimpi dan diamku. Segala tingkah konyolmu tiba-tiba menjadi penghibur yang selalu kurindukan.

Namun aku benci kenyataan itu. Kenyataan bahwa aku mencintaimu.

Senin, 24 Juni 2013

Cinta dalam Secangkir Kopi






Aku menyeruput kopi tubruk favoritku. Dengan panas yang sedang aku menikmati rasanya yang pahit sedikit manis. Menyesapi harumnya yang menggelitik hidung ini, membawa candu untuk tetap mengirupnya.

Rintik hujan di luar sana masih terdengar sangat jelas. Bau harum tanah menyeruak memaksaku membagi harum kopi ini di pagi yang gerimis. Jalanan di hadapanku tampak sepi. Hanya ada beberapa pejalan kaki denga suara ceplak telapak kakinya yang terdengar jelas. Dengan berlindung di bawah payung mereka tetap berjalan.

“Tumben sepi ya Pak.” Aku membuka suara, mengajak berbincang Pak Anwar pemilik kedai kopi langgananku.

“Ini kan hari Minggu Neng mungkin manusia-manusia itu masih terbuai dalam mimpi masing-masing.” Pak Anwar menjawab pertanyaanku seraya menata apik kedainya. Memang sepagi ini kedai baru dibuka sehingga Pak Anwar masih sibuk menata dagangannya.

Senin, 10 Juni 2013

CLOUD


Mengagumi seseorang itu menyenangkan tetapi sakit. Sama seperti aku yang mengaguminya. Mengagumi seseorang yang aku tak mengerti.

Tak tahu sejak kapan aku memulainya. Aku hanya merasa tiba-tiba rasa rindu ingin melihat sosoknya setiap saat datang. Merasa tiba-tiba dia hadir dalam mimpiku.
Sejak saat itu datang, hari-hari yang kujalani tak lagi seperti dulu. Hati ini tiba-tiba saja tanpa aku mengerti berdebar kencang tak terkendali. Terlebih ketika aku berada didekatnya.

Kawanku berkata, “Mungkin kamu menyukainya!”
Ah apa pula itu, tak mungkin bukan? Dia hanya seorang laki-laki yang berpikiran dewasa dan baik hati. Dari mana mereka biasa menyimpulkan semua itu.

Hari demi hari aku mencoba membiasakan diri dengan perasaanku itu. Membiasakan diri ketika berada di dekatnya. Bahkan hanya ketika kami saling berpapasan.

Seperti awan di langit aku berharap tentang perasaanku ini. Seperti berbagai bentuk awan yang tiba-tiba berubah, seperti itulah aku berharap tentang perasaan. Tentang perasaanku yang juga dapat berubah ketika aku sadar bahwa memang ini yang dinamakan cinta. Aku tak ingin seperti pagar makan tanaman. Karena itu sekuat tenaga aku ingin menghapus semua perasaan ini.

Ketika rasa itu tertanam semakin dalam, tiba-tiba seseorang datang. Seperti hadiah yang diberikan Tuhan. Aku mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Namun aku tak bia memungkiri diriku bahwa aku tidak bisa menerimanya. Bahwa sudah ada seseorang di hati ini. Awan telah memilih hujannya sendiri. Hujan yang menyirami hatiku. Membuat bunga-bunga tetap bermekaran.

Maafkan aku yang tidak bias memilihmu. Kamu orang yang baik dan aku yakin. Suatu saat Tuhan akan memberikan hadiah indah untukmu kawan. Bukankah akan lebih sakit jika aku membohongimu? Semoga kenyataan yang dilandasi kejujuran lebih baik, walaupun itu sakit.

Dan akhirnya aku masih di sini. Berusaha menelusuri dan memahami lekuk ranting pohon itu. Selalu menunggu di bawah kerindangannya. Menunggu hingga sang pohon menggugurkan daunnya. Walaupun itu berjuta-juta kali aku menunggu.

Biarlah perasaanku yang memutuskan. Untuk tetap berlanjut menunggu atau pergi. Karena pada hakikatnya yang aku inginkan adalah kenyamanan hati. Bukan sekedar pandangan belaka.